Showing posts with label Penyusunan Artikel dan Publikasi Sekunder. Show all posts
Showing posts with label Penyusunan Artikel dan Publikasi Sekunder. Show all posts

Friday, 22 July 2016

MODUL 9: PUBLIKASI/ LITERATUR SEKUNDER


Ringkasan materi modul 9 Penyusunan Artikel dan Publikasi Sekunder
Pengarang       : Lasa Hs dan Purwanti Istiana
Penerbit           : Universitas Terbuka (2014)


KB 1. Literatur Sekunder: Pengertian, Macam, dan Fungsinya
Literatur yang merupakan bnetuk ekspresi manusia itu sebenarnya merupakan pemikiran yang terorganisir dan dituangkan dalam bentuk tulisan maupun rekaman. Tulisan mupun rekaman ini harus mengandung unsur pengembangan dan dapat dipahami orang lain.
Dari sisi lain, literatur dapat dibagi menjadi literatur fiksi dan literatur nonfiksi. Karya fiksi adalah suatu karya tulis yang berupa rekayasa, rekaan, atau karya imajinatif yang ditulis berdasarkan khayalan belaka.

Fiksi Ilmu
Karya fiksi ilmu disebut juga dengan fiksi sains, yakni karangan fiksi yang khayali dan fantastis serta melibatkan unsur kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Karya tulis nonfiksi adalah karya tulis yang disusun berdasarkan sistem pemikiran dan penalaran tertentu. karya ini misalnya berupa artikel, buku teks, makalah seminar, maupun karya akademik.
Dari sisi lain William A. Kat (1978) membagi literatur menjadi: literatur primer/ primary source, literatur sekunder/ secondary source, dan literatur tersier/ tertiary source.

Literatur Primer
Literatur primer/ primary literature disebut juga primary publication, yakni publikasi atau literatur yang merupakan hasil karya atau pemikiran asli dan baru/ original thinking seperti hasil penelitian, artikel, dan buku teks yang merupakan penerapan teori baru maupun penjelasan tentang suatu bidang. Bentuk ini pada umumnya disimpan di perpustakaan seperti disertasi, hasil penelitian, artikel jurnal, buku teks, paten, dan lainnya.

Literatur Sekunder
Literatur sekunder merupakan bentuk informasi yang merupakan petunjuk, ringkasan, evaluasi maupun kritikan terhadap literatur primer. Biasanya literatur sekunder ini merupakan modifikasi, seleksi, atau disusun kembali untuk tujuan dan pemustaka tertentu. Literatur sekunder ini akan memberikan arahan informasi yang telah terseleksi dan merangkum pengertian-pengertian terkait dalam susunan yang sistematis. Disamping itu literatur sekunder akan menyampaikan koreksi pada kesalahan dalam literatur primer.
Literatur sekunder memiliki karakteristik dan peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, antara lain.
     a.       Menginformasikan adanya sumber informasi yang menyebar di berbagai tempat (perpustakaan, pusat informasi, toko buku, dan lain-lain).
      b.      Memberikan penilaian terhadap kualitas suatu informasi dan keterkaitannya dengan bidang lain.
      c.       Memberikan dasar-dasar teori, rumusan, maupun prosedur penelitian maupun pengembangannya.
      d.      Menunjukkan bidang-bidang yang terkait.
      e.       Menampilkan penemuan maupun hal-hal yang menarik.
      f.       Merangkum berbagai bidang.

Literatur Tersier
Literatur tersier adalah literatur yang menunjukkan, menafsirkan, atau menilai literatur sekunder. Bentuk literatur ini antara lain bibliografi dari bibliograi dan katalog induk. Sesuai perkembangan teknologi informasi, maka bentuk literatur tersier ini dapat berupa database maupun jaringan kerjasama antar perpustakaan. pada jaringan ini terkumpul katalog/ daftar katalog dari beberapa perpustakaan.

KB 2. Majalah Indeks dan Abstrak
Majalah indeks adalah publikasi yang terbit secara berkala memuat petunjuk tentang subjek, judul artikel majalah, nama penulis artikel, judul majalah/ jurnal, volume, nomor, bulan, tahun, dan halaman yang memuat suatu artikel.
Melalui majalah indeks seorang ilmuan dapat mengutip atau menyitir pendapat ilmuan lain dan ini menunjukkan adanya kerjasama yang baik sesame ilmuan atau para professional.
Penyusunan literatur sekunder semakin berkembang dan kini telah banyak publikasi yang memuat indeks sitiran, antara lain adalah Science Citation Index (SCI), Social Science Citation Index (SSCI), dan Art & Human Citation Index (AHCI).
Majalah abstrak adalah publikasi yang terbit secara berkala yang memuat abstrak artikel bidang tertentu yang juga dilengkapi dengan indeks subjek. Majalah abstrak ini menyajikan indeks artikel jurnal disertai abstraknya.
Contoh majalah indeks dan majalah abstrak antara lain Index of Indonesian Learned Periodicals (Indeks Majalah Ilmiah Indonesia), Indeks Biologi dan Pertanian Indonesia (Indonesian Biological and Agricultural Index), Agrindex, Science Citation Index (SCI), Chemical Abstract, dan Biological Abstract.

KB 3. Katalog Penerbit, Bibliografi, Accession List
Katalog Penerbit/ Trade Catalog
Katalog penerbit adalah daftar buku dan terbitan lain yang disusun oleh penerbit/ perusahaan rekaman atau agen disertai harga yang disebarluaskan ke perpustakaan sekolah-sekolah maupun lembaga perguruan tinggi.
Bibliografi
Secara sederhana bibliograi berarti daftar pustaka atau kajian terhadap satu buku atau lebih. Daftar pustaka ini dapat dilihat dapat dilihat pada bagian akhir artikel jurnal, laporan penelitian, dan karya akademik seperti laporan kerja praktek, skripsi, tesis, pidato pengukuhan, dan disertasi.
Bibliografi adalah suatu daftar buku-buku, karangan dalam majalah, laporan dan lainnya yang disusun menurut cara/ sistem tertentu seperti berdasarkan abjad pengarang/ author, abjad judul, subjek, dan lainnya.
Bibliografi disusun dengan maksud untuk menunjukkan apa saja yang pernah diterbitkan oleh pengarang/ penulis tertentu, judul tertentu, atau bidang tertentu. dalam hal ini bibliografi berperan untuk melengkapi katalog perpustakaan yang dengan sendirinya menuntut bibliografi untuk bisa berperan sebagaimana katalog.
Bibliografi disusun sedemikian rupa dimaksudkan agar bisa berfungsi untuk.
      a.       Membantu para ilmuan dalam penemuan kembali akan informasi di bidang mereka.
      b.      Memperkenalkan dan mempromosikan buku-buku tertentu.
      c.       Merupakan sarana pemilihan buku.
      d.      Menghindari duplikasi penelitian.
     e.       Mengetahui perkembangan perbukuan, penerbitan berkala, maupun karya rekam dari waktu ke waktu.
      f.       Membantu pengembangan ilmu pengetahuan.

Macam-macam Bibliografi
       a.       Bibliografi sistematis
Disebut juga dengan bibliografi enumeratif. Sebab untuk penyusunannya dilakukan pemilihan bahan pustaka yang akan dicakup. Disebut dengan bibliografi sistematis karena dalam penyusunannya mengikuti tatacara penulisan bibliografi yang resmi, rasional, berlaku dalam asosiasi keilmuan, dan bergerak di bidang bibliografi.
Bibliografi sistematis dapat dibagi lagi menjadi cara penyusunan menurut waktu, cakupan, dan wilayah.
1)      Berdasarkan waktu
a)      Bibliografi restrospektif/ restrospective bibliography
Disebut pula bibliografi lampau, yakni bibliografi yang mencatat terbitan-terbitan yang terbit pada masa lalu dalam kurun waktu tertentu dalam bidang tertentu.
b)      Bibliografi kini/ current bibliography
Bibliografi yang mencatat pustaka yang saat itu masih/ sedang terbit sehingga mudah didapatkan di toko buku, pameran buku, atau di perpustakaan.
c)      Bibliografi prospektif/ prospective bibliography
Bibliografi ini menyajikan daftar buku atau majalah yang akan diterbitkan.
2)      Cakupan
a)      Bibliografi umum
Mencakup berbagai disiplin ilmu dengan tidak memandang isi dan jenisnya.
b)      Bibliografi subjek
Mencakup literatur dalam bidang tertentu atau subjek khusus yang biasanya disusun alfabetis.
3)      Wilayah
a)      Bibliografi daerah
b)      Bibliografi nasional

      b.      Bibliografi analitik/ analytical bibliography
Jenis bibliografi ini juga disebut dengan bibliografi evaluatif dan bibliografi kritik. Sebab bibliografi ini menyajikan data bibliografi juga menyampaikan penilaian/ evaluasi dan kritikan terhadap suatu karya.

      c.       Bibliografi historis/ historical bibliography
Bibliografi ini secara sederhana adalah mempelajari segala sesuatu kegiatan yang berkaitan dengan perbukuan dan produksinya. Dengan demikian bidang kajian bibliografi ini meliputi proses produksi, penjualan, dan penyebarannya.

Silahkan download ringkasan materinya disini.


MODUL 8: ABSTRAK


Ringkasan materi modul 8 Penyusunan Artikel dan Publikasi Sekunder
Pengarang       : Lasa Hs dan Purwanti Istiana
Penerbit           : Universitas Terbuka (2014)


KB 1. Abstrak; Pengertian, Macam, dan Fungsinya
Pengertian abstrak menurut Organisasi Standar Internasional/ International Standard Organization/ ISO 214-1976 adalah uraian  singkat dan akurat yang mewakili isi dokumen tanpa tambahan interpretasi maupun kritikan dan juga tidak mempersoalkan siapa pembuat sari karangan itu.
Munculnya abstrak untuk karya tulis ilmiah dalam perkembangan ilmu pengetahuan karena didorong oleh beberapa faktor antara lain: perkembangan jurnal ilmiah/ scientific journal, kebutuhan para ilmuan untuk penulisan karya ilmiah, kebutuhan informasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan.
      1.      Perkembangan jurnal
Kelahiran jurnal membawa perubahan yang sangat pesat terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Begitupun dengan perkembangan penerbitan ilmiah yang semakin meningkat sehingga memerlukan media penyimpanan. Tahun 1850 diterbitkan majalah sari karangan sebagai salahsatu upaya penampungan dan penyediaan sarana temu kembali akan berbagai topik artikel pada berbagai publikasi.
Kemudian dengan semakin banyaknya sari karangan, lalu timbul pemikiran perlunya penyimpanan dan pendayagunaan yang lebih efektif terutama dengan penemuan komputer sebagai sarana simpan dan sarana pelayanan yang lebih efektif. Kemudian diciptakan pangkalan data/ database sebagai penampung informasi ilmiah yang dimuat oleh jurnal ilmiah maupun sari karangan/ abstrak.

      2.      Kebutuhan para ilmuan untuk penulisan karya ilmiah
Para ilmuan sangat memerlukan sari karangan dan sekaligus mereka itu sebagai penghasil sari karangan. Sebab dalam melakukan kegiatan mereka akan selalu mencari informasi yang berupa topik tentang masalah yang akan ditulis atau diteliti. Dalam upaya ini pada umumnya mereka mencari langsung pada literatur primer seperti buku teks, artikel jurnal, hasil penelitian, dan lainnya.

      3.      Kebutuhan informasi
Pustakawan sebagai petugas bidang informasi seharusnya berusaha menyampaikan informasi secara aktif kepada pemustaka. Begitupun dengan sebuah jurnal ilmiah maupun abstrak sebagai kebutuhan informasi para ilmuan, merupakan tugas pustakawan untuk menyampaikannya.

      4.      Perkembangan ilmu pengetahuan
Dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, para ilmuan memerlukan sarana komunikasi untuk bisa berhubungan dengan ilmuan lain. Dulu para ilmuan melakukan komunikasi keilmuan secara forml melalui treatise. Berhubung proses penerbitannya memakan waktu lama, mereka lalu melakukan komunikasi melalui majalah ilmiah karena penerbitannya lebih cepat. Sedangkan pada awal tulisan ilmiah selalu dicantumkan abstrak agar isi artikel mudah dipahami meskipun secara garis besar.

Karakteristik Abstrak
     1.      Mengurangi jumlah literatur primer.
     2.      Menekankan aspek khusus yang berguna bagi pemustaka literatur.
     3.      Mempermudah temu kembali.
     4.      Memencarkan informasi bidang tertentu.
     5.      Alat pemilihan informasi mutakhir.

Macam-macam Abstrak
      1.      Abstrak informatif/ informative abstract
Bentuk abstrak yang berusaha menyajikan data kuantitatif dan data kualitatif sebanyak mungkin. Dengan demikian pembaca mendapat gambaran yang lebih banyak tentang isi dokumen atau naskah dan kemungkinan besar telah merasa puas.

      2.      Abstrak indikatif/ indicative abstract
Berupa uraian singkat tentang isi dokumen untuk memberikan petunjuk sasaran/ indikasi dan cakupan tulisan.

      3.      Sari karangan indikatif-informatif/ informative-indicative abstract
Bentuk abstrak ini merupakan gabungan dari abstrak indikatif dan informatif.

      4.      Abstrak kritik/ critical abstract
Yakni abstrak yang mengemukakan evaluasi, penilaian, saran, maupun kritikan disamping menyampaikan uraian ringkas.

       5.      Abstrak sorotan/ highlight abstract
Abstrak yang menyampaikan uraian singkat tentang topic dalam surat kabar, majalah, atau tabloid yang dianggap menarik saat itu. Bentuk tulisan abstrak ini santai dan menarik.

      6.      Abstrak statistic/ statistical abstract
Abstrak ini disebut abstrak numerik/ numerical abstract. Abstrak ini mengemukakan data, angka, tabel, atau grafik yang pada umumnya untuk menyajikan data penduduk, perkembangan ekonomi, data impor ekspor, dan lainnya.

      7.      Abstrak bidang khusus/ slanted abstract
Abstrak yang ditujukan pada orang-orang yang berkecimpung dalam bidang yang sangat khusus seperti ahli rekayasa, dokter spesialis, fisikiawan, dan lainnya.

KB 2. Teknik Penyusunan Abstrak
Dalam menyusun abstrak perlu dipahami lebih dulu tentang unsur-unsur yang harus ada dalam penyusunan abstrak. Unsur itu antara lain data bibliografis, bentuk abstrak, cara membaca naskah, dan syarat penyusunan abstrak. Data bibliografis adalah data fisik suatu naskah yang meliputi judul naskah, pengarang, impresium, dan jumlah halaman.

       1.      Judul
a.       Judul alternatif
b.      Judul berian
c.       Judul berita
d.      Judul kolektif
e.       Judul kunci
f.       Judul pelari/ running title
g.      Judul punggung buku
h.      Judul seragam
i.        Judul tepat

      2.      Pengarang
Pengarang adalah seseorang atau lebih atas nama pribadi, lembaga, maupun badan korporasi secara sendirian maupun kelompok yang menyiapkan dan menuangkan gagasan, ide, pemikiran, dan pengalaman ke dalam bentuk karya intelektual maupun artistic. Dalam penyusunan abstrak ini harus dipahami macam-macam pengarang.
a.       Pengarang campuran, adalah beberapa orang atau badan yang mengambil bagian maupun membantu terwujudnya karya tulis.
b.      Pengarang simulan atau ghost writer adalah orang yang menggubah karya tulis orang lain atau menulis untuk oran glain.
c.       Editor, adalah seseorang atau lebih yang mengumpulkan, menyiapkan naskah, menyeleksi, mengedit, dan menerbitkan tulisan.
d.      Pengarang perorangan, yakni orang yang atas nama diri menyusun karya tulis dan bertanggungjawab atas substansi tulisan secara sendirian.

      3.      Impresium
Impresium atau inprint adalah data bibliografi pada judul buku yang menunjukkan kota terbit, nama penerbit, dan tahun terbit.


Silahkan download ringkasan materinya disini.

MODUL 7: TEKNIK PENYUSUNAN INDEKS


Ringkasan materi modul 7 Penyusunan Artikel dan Publikasi Sekunder
Pengarang       : Lasa Hs dan Purwanti Istiana
Penerbit           : Universitas Terbuka (2014)


KB 1. Indeks Artikel Majalah/ Jurnal Ilmiah dan Laporan Penelitian
Penyusunan indeks dimaksudkan untuk mempermudah penelusuran kembali akan tema, nama pengarang, maupun artikel-artikel yang dimuat oleh jurnal yang terbit saat itu. Sebab judul jurnal atau majalah itu belum tentu mencerminkan isi artikel yang dimuatnya, untuk mengetahui topik-topik apa saja yan dimuat suatu jurnal, perlu dibuatnya indeks.
Indeks biasanya disusun berdasarkan abjad latin agar dapat digunakan oleh semua orang.  Namun demikian dalam penyusunan indeks alfabetis perlu ada standar atau pedoman yang baku dan tidak bisa menggunakan bahasa umum. Maka bahasa umum harus dimodifikasi sedemikian rupa agar memiliki keseragaman dalam penggunaannya. Dari beberapa literature terdapat beberapa cara dalam pembuatan indeks.
      1.      Indeks Kata Kunci
Pembuatan indeks kata kunci merupakan cara yang paling sederhana karena tidak harus mengetahui secara mendalam tentang pengetahuan suatu bidang. Indeks ini dibuat berdasarkan istilah yang sudah tertulis dalam judul topic, artikel, judul makalah, judul penelitian, dan lainnya.

      2.      Indeks Konsep
Indeks yang terdiri dari kata yang menurut pembuat indeks lebih menunjukkan konsep yang dibahas dalam dokumen/ literatur daripada kata yang tercantum dalam judul. Pembuat indeks konsep harus memahami bidang yang dibahas dalam dokumen yang diindeks.
Dalam pembuatan indeks diperlukan pengetahuan yang luas dan komprehensif. Sebab dalam pembuatan indeks akan ditemukan beberapa istilah seperti disiplin ilmu, abstraksi, fenomena, dan faset.
Disiplin ilmu adalah cabang ilmu pengetahuan yang mengarahkan jenis-jenis subjek yang ditinjau dari sudut tertentu dalam sistem klasifikasi. Abstraksi adalah segala bentuk uraian dan pengembangan dalam pembuatan indeks konsep. Fenomena dapat berupa benda maujud/ kelihatan da nada yang abstraksi (tidak bisa dilihat/ dirasakan) yang dikaji dalam satu disiplin ilmu. Sedangkan faset merupakan segi atau bagian dari suatu objek pembicaraan.

Lalu perlu kita ketahui hubungan masing-masing, misalnya.
1.      Hubungan faset dan fenomena
a)      Hubungan genus-species, contohnya genusnya buah-buahan, maka speciesnya durian, pisang, mangga, dan lainnya.
b)      Hubungan benda dan sifatnya, contohnya benda lahan, sifatnya kering, kosong, subur, tandus.
c)      Hubungan semantik dan sintaktik. Disebut hubungan semantik karena fenomena itu memiliki hubungan dengan faset atas dasar definisinya atau artinya. Hubungan sintaktik adalah hubungan faset dan fenomena dimana diantara bagian-bagian fenomena itu tidak memiliki hubungan arti satu dengan lainnya.

       3.      Indeks Koordinat
Suatu proses menganalisa isi literatur, artikel, makalah, buku, dan lainnya lalu menerjemahkan hasil analisa itu menjadi dua kata atau lebih. Indeks koordinat ini dibagi menjadi cara prakoordinat dan pasca koordinat.
Indeks prakoordinat adalah apabila konsep majemuk diperlakukan sebagai satu unit. Sedangkan indeks pasca koordinat ialah apabila konsep majemuk itu dianalisa dan hasil analisa itu dipecah-pecah. Hasil pemecahan-pemecahan itu lalu dibuat istilah dengan bahasa indeks yang menerangkan konsep tertentu.

      4.      Menentukan Judul-judul Terbitan Berkala Apa Saja yang Akan Dibuatkan Indeks
Dalam pembuatan indeks ini perlu dipikirkan masak-masak judul-judul terbitan berkala apa saja yang akan dibuatkan indeks.

      5.      Membuat Deskripsi Artikel
Membuat dekskripsi artikel meliputi:
a.       tajuk entri utama artikel;
b.      judul artikel;
c.       judul majalah yang memuat artikel tersebut;
d.      volume, nomor, bulan, tahun (apabila ada).

     6.      Menentukan Subjek-subjek yang Terkandung dalam Artikel


KB 2. Indeks Bagian Suatu Buku/ Kumpulan Karangan (Indeks Analitik)
Menurut Lancaster dalam Kuslan (1996) indeks cetak memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Adapun kelebihannya antara lain.
     1.      Dilengkapi indeks subjek, indeks penulis, dan indeks geografis sehingga memudahkan pemustaka dalam menemukan informasi.
     2.      Menghemat waktu pemustaka karena lokasi subjek, penulis, dan geografi ditunjukkan oleh nomor entri.
      3.      Mempunyai titik perolehan/ access point.
     4.      Memberikan istilah lain yang berhubungan sehingga pemustaka mendapat gagasan untuk mencari ke istilah tersebut.
     5.      Lebih murah bila disbanding dengan automatisasi indeks

           Adapun kelemahan indeks tercetak antara lain.
     1.      Indeks cetak hanya berisi literatur tahun tertentu.
    2.      Titik perolehan/ access point pada indeks cetak masih kurang dibandingkan pada automatisasi indeks.
    3.      Penelusuran dilakukan secara manual sehingga memakan waktu lebih lama disbanding melalui komputer.
   4.      Indeks cetak kadang-kadang tidak dapat digunakan karena sedang dijilid atau tidak dimiliki perpustakaan.
Pembagian indeks dari berbagai aspek:
      1.      Media
a.       Indeks buku
b.      Indeks serial
c.       Indeks peta
d.      Indeks rekaman suara/ video
e.       Indeks bentuk mikro

      2.      Bentuk/ tipe
a.       Indeks subjek
b.      Indeks pengarang
c.       Indeks kutipan
d.      Indeks kata kunci
e.       Indeks geografi
f.       Indeks numerikal

 Silahkan download ringkasan materinya disini.